Science Communication Hilangkan Momok Pemanfaatan Nuklir di Masyarakat

Minggu, 6 Agustus 2017 | 17:24 WIB


Yogyakarta (4/8) – Pemanfaatan nuklir sebagai energi terbarukan masih menjadi perdebatan di tengah masyarakat. Salah satu penyebabnya, banyak yang mengidentikkan nuklir dengan hal-hal negatif, seperti untuk bahan peledak atau perusak lingkungan. Padahal, tenaga nuklir nyatanya dapat dimanfaatkan sebagai energi listrik yang murah melalui Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN), bahkan mampu menghasilkan varietas padi unggul Sidenuk.

Direktur Jenderal Sumber Daya Iptek Dikti Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti), Ali Ghufron Mukti dalam acara Focus Group Dicussion (FGD) Optimalisasi Pemanfaatan Reaktor Riset Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) mengungkapkan, masyarakat banyak yang tidak tahu mengenai manfaat tenaga nuklir sehingga begitu mendengar kata nuklir langsung dianggap suatu hal yang berbahaya. Untuk itu, perlu peran dari peneliti dan akademisi untuk memberikan pemahaman yang komprehensif, yakni menggunakan konsep science communication atau komunikasi sains.

“Padahal BATAN sudah punya tiga reaktor riset sejak lama. Pertama, reaktor TRIGA di Bandung diresmikan sejak 1965, lalu reaktor Kartini di BATAN Yogya ini tahun 1979, dan reaktor RSG-GAS di Puspitek Serpong yang diresmikan pada 1987. Artinya, riset dan pemanfaatannya sudah sejak lama dan aman-aman saja. Menariknya, ketiga reaktor tersebut berada di sekitar tempat tinggal warga, dan mereka menerima. Entah masyarakatnya yang tahu kalau aman atau mereka sebenarnya tidak tahu keberadaan reaktor nuklir di dekat rumah mereka,” ucap Ghufron di BATAN Yogyakarta, Jumat (4/8).

Komunikasi sains, tutur Ghufron, dilakukan untuk mengekspos berbagai manfaat tenaga nuklir, seperti dalam kesehatan, pengawet makanan, hingga pengembangan riset lainnya. Dengan begitu, dia berharap banyak anak muda yang tertarik untuk studi teknik nuklir.

“Regenerasi sumber daya manusia untuk bidang nuklir masih minim. Dengan potensi Indonesia, tentu kita membutuhkan banyak ahli nuklir di masa mendatang. Nah, pemanfaatan nuklir inilah perlu dikenalkan kepada generasi muda, jika perlu sejak SMA. Jadi mereka yang makan nasi enak dari beras Sidenuk itu tahu kalau dihasilkan dari pemanfaatan tenaga nuklir,” paparnya.

Lebih lanjut, Mantan Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (UGM) itu menjelaskan, esensi nuklir tidak sebatas memproduksi radioisotop, tetapi juga mencakup penelitian yang menghasilkan inovasi-inovasi. BATAN, sebagai Lembaga Pemerintah Non-Kementerian (LPNK) harus melakukan resource sharing, terutama dengan perguruan tinggi agar mahasiswa teknik nuklir dapat menggunakan laboratorium penelitiannya.

“Bangsa yang maju itu yang terus berinovasi. Oleh sebab itu, resource sharing antara perguruan tinggi dengan LPNK ini sangat diperlukan sehingga para mahasiswa atau dosen kalau ingin belajar atau meriset nuklir itu tidak usah jauh-jauh ke luar negeri, di BATAN juga ada,” ujarnya.

Kemristekdikti sendiri telah memberikan dukungan berupa berbagai skema dana penelitian. Meski begitu, Ghufron mengatakan, optimalisasi pemanfaatan tenaga nuklir tidak cukup dengan dorongan kementerian semata, tetapi juga dukungan seluruh pemangku kepentingan, meliputi dosen, peneliti, penggiat teknologi, periset, Dewan Riset Daerah, tokoh masyarakat, hingga LSM.

“Semuanya harus bersinergi, dijelaskan manfaatnya supaya tidak ada lagi orang takut nuklir karena meledak,” sebutnya.

Sementara Kepala BATAN, Djarot Sulistio Wisnubroto menambahkan, BATAN Yogyakarta akan dijadikan sebagai pusat penelitian dan pengembangan, termasuk kurikulum pendidikan. Nantinya, kurikulum tersebut dapat diajarkan pada guru di Lembaga Pendididikan Tenaga Kependidikan (LPTK) dengan tujuan siswa tidak salah persepsi lagi mengenai nuklir.

“Jadi Reaktor Kartini yang ada di sini dimanfaatkan untuk tujuan penelitian, iradiasi, pendidikan, dan pelatihan,” tandas Djarot. (ira)