Menjadi Ilmuwan Tak Perlu Menunggu Tua

Rabu, 2 Agustus 2017 | 12:57 WIB


 Jakarta (2/8) – Saat ini sains dan ilmu pengetahuan belum dianggap sebagai suatu hal yang menarik. Alhasil, tak banyak generasi muda yang bermimpi ingin menjadi ilmuwan atau peneliti. Di sisi lain, Indonesia memiliki sumber daya dan keanekaragaman yang melimpah untuk dieksplorasi dan dikembangkan bagi kebutuhan masyarakat luas.

Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir menyebut, menjadi peneliti tidak perlu menunggu tua. Untuk itu, Nasir ingin menggelorakan jiwa para peneliti untuk melakukan riset-riset terbaru, menuliskan publikasi internasional, hingga menghasilkan prototype dan inovasi yang dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

“Kalau ingin meneliti itu tidak usah menunggu tua, anak muda juga boleh. Ketertarikan dalam meneliti ini yang harus dikembangkan agar ilmuwan Indonesia semakin handal,” ujar Nasir dalam acara Penganugerahan Ristekdikti – Martha Tilaar Inovation Center (MTIC) Award 2017 di Gedung Patra Jasa, Jakarta, Rabu (2/8).

Pada kesempatan tersebut Nasir mengungkapkan, jumlah publikasi Indonesia sudah mengalami lompatan yang signifikan. Dia menjelaskan, publikasi internasional Indonesia awalnya hanya 4.200 pada 2014. Jumlah tersebut masih kalah jauh dibandingkan negara-negara lainnya di Asia Tenggara, seperti Singapura, Malaysia, dan Thailand. Berbagai langkah dan kebijakan strategis pun dilakukan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti) guna meningkatkan kuantitas dan kualitas publikasi internasional.

“Kami melakukan perbaikan regulasi, di antaranya pertanggungjawaban peneliti sekarang berdasarkan output. Dahulu meneliti itu jauh lebih ringan ketimbang pertanggungjawabannya karena penelitian berbasis pada aktivitas, ini hal yang terbalik. Dengan kerja sama yang baik, per 31 Juli 2017 saya cek jumlah publikasi internasional terindeks Scopus sudah 9.300, mengalahkan Thailand yang baru sekira 8.500 publikasi,” papar Nasir.

Meski begitu, Nasir ingin supaya para peneliti tidak cepat puas. Sebab, dia menargetkan pada 2018 jumlah publikasi internasional Indonesia bisa mengalahkan Singapura, dan pada 2019 mengalahkan Malaysia. Peningkatan produktivitas peneliti ini juga mampu mendongkrak jumlah prototype bahkan inovasi. Sementara itu, dia mengingatkan jangan sampai publikasi tidak tersentuh, dan hanya diletakkan di perpustakaan untuk mengejar gelar Doktor atau Profesor.

Penganugerahan Risetekdikti – MTIC Awards menjadi salah satu bentuk apresiasi untuk menggairahkan para peneliti. Acara ini juga menjadi bukti adanya kerja sama yang baik antara pemerintah, bisnis, dan akademisi. Nasir berharap, Ristekdikti – MTIC Award mampu menjembatani kesenjangan antara riset yang dilakukan oleh para peneliti di berbagai institusi litbang dan perguruan tinggi dengan kebutuhan industri. Adapun pemenang dari ajang ini, yaitu pemenang I, Beni Lestari, S.Farm., Apt dari Universitas Gadjah Mada (UGM) dengan penelitian Biji Labu Kuning untuk Wanita Aktif Awet Muda; pemenang II, Prof Enos Tangke Arung, PhD dari Universitas Mulawarman dengan penelitian Potensi Ekstrak Daun Cincau Hijau sebagai Bahan Pencerah Kulit dan Anti Jerawat; dan pemenang III, Dr. Dr Puguh Riyanto, SpKK, FINSDV dari Universitas Diponegoro (Undip) dengan penelitian Manfaat Krim Isoflavon kedelai 1% sebagai Anti Akne Vulgaris.

“Selamat bagi para pemenang. Saya ingin jiwa meneliti terus digairahkan, sesuai dengan tema Hari Kebangkitan Teknologi Nasional atau Hakteknas ke-22, yakni Gelorakan Inovasi yang akan diselenggarakan di Makassar nanti,” imbuhnya.

Selain Menristekdikti, sejumlah tokoh dan akademisi juga turut hadir pada acara tersebut, seperti Martha Tilaar, Prof. Dr. Emil Salim, dan Direktur Jenderal Penguatan Inovasi Jumain Appe.

“Saya setuju bahwa riset perlu dikolaborasikan antara akademisi, bisnis, dan government. Lebih lanjut, menerapkan connection, collaboration, dan to compete, sehingga hasil riset itu juga membuat para petani dan komunitas lainnya menjadi makmur dan sejahtera,” tukas Martha Tilaar. (ira)