Tim Investigasi Kemristekdikti Pastikan Rektor UHO Tidak Lakukan Plagiasi

Rabu, 19 Juli 2017 | 10:46 WIB


Jakarta (19/7) – Rektor terpilih Universitas Halu Oleo (UHO), Muhammad Zamrun Firihu resmi dilantik oleh Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti), Mohamad Nasir. Sebelumnya, pergantian pemimpin di UHO tersebut sempat terkendala dengan polemik plagiasi. Pelantikan pun dilakukan setelah Tim Investigasi independen menyimpulkan bahwa Muhammad Zamrun Firihu tidak terbukti melakukan plagiasi.

 

Tim Investigasi tersebut dibentuk oleh Direktorat Jenderal Sumber Daya Iptek dan Dikti Kemristekdikti. Usai pelantikan rektor, Direktur Jenderal Sumber Daya Iptek dan Dikti, Ali Ghufron Mukti menjelaskan, meskipun ada kesamaan secara teoritikal pada bagian pendahuluan dengan beberapa profesor di tempat lain, kesimpulannya sejumlah karya ilmiah yang dipermasalahkan bukan termasuk ke dalam plagiarisme.

 

“Secara peta ilmu pengetahuan, Pak Zamrun menggunakan satu pengembangan terus-menerus semacam road map dari satu sisi, lalu ditambahi dengan yang lainnya. Jadi memang ada kesamaan karena penelitian terus-menerus, dan ada perbaikannya.” ujarnya di Gedung D Kemristekdikti, Jakarta, Selasa (18/7).

 

Senada dengan Ghufron, Sekretaris Jenderal Kemristekdikti, Ainun Na’im menambahkan, sebuah penemuan baru pasti akan merujuk kepada penelitian sebelumnya. Menurut Ainun, tim review independen telah menyatakan secara substansi bahwa penelitian yang diduga mengandung plagiasi mampu menghasilkan temuan baru yang belum pernah ditemukan oleh peneliti sebelumnya, dan belum pernah ditulis dalam penelitian lain.

 

Pemilihan Tim Investigasi, tutur Ghufron, juga tidak sembarangan. Pasalnya, Kemristekdikti membentuk tim independen dengan anggota yang memiliki reputasi akademik tinggi, serta terkait dengan bidang yang dipersoalkan. “Pengujian berlandaskan pada dua sisi. Sisi pertama dari peraturan perundangan, yakni Permendiknas Nomor 17 Tahun 2010, khususnya tentang plagiarisme.  Sisi kedua, dilihat dari konten pembaharuan dan hasil dari proses penelitian yang dipublikasikan di jurnal bereputasi dan indeksnya cukup tinggi. Itu semua menjadi concern tim,” papar Ghufron.

 

Berdasarkan Permendiknas Nomor 17 Tahun 2010 tersebut, dikatakan bahwa plagiasi terjadi apabila mengambil sengaja atau tidak sengaja yang tidak merujuk secara tepat atau memadai. Sedangkan tim independen melihat bahwa rujukan yang digunakan telah memadai, ditambah dengan kebaharuan, sehingga hasil dari penulisan publikasi ilmiah tersebut bisa dimuat di jurnal internasional.

 

“Di Indonesia semua plagiarisme saat di lapangan kadang-kadang masih terdapat ketidaksepakatan. Untuk itu,  pihak yang melaporkan kasus plagiarisme tidak akan disalahkan, asal sesuai dengan kode dan kaidah. Selain itu, tidak boleh mengaitkan dengan kepentingan politik atau pemilihan rektor dan sebagainya. Seharusnya hal ini dilakukan terpisah sehingga prosesnya akan dibentuk tim yang berbasis pada  keahlian dan expert judgement,” ucapnya.

 

Guna mengantisipasi kejadian serupa, ke depan Kemristekdikti akan melihat secara komprehensif, dengan mengacu pada Permendiknas Nomor 17 Tahun 2010. Ghufron mengungkapkan, pada kasus plagiarisme nantinya juga perlu dilihat seberapa banyak plagiasi yang dilakukan.

 

“Pihak yang hanya mengutip 0.5 persen seharusnya tidak disamakan dengan pihak yang melakukan plagiat 100 persen. Berkaitan dengan hal tersebut, perlu diatur secara lebih detail dengan perundangan yang ada,” simpul Ghufron.

 

Adapun artikel yang diduga hasil plagiasi terhadap karya peneliti orang lain maupun karya/jurnal sendiri (self plagiarism), di antaranya; (1) Microwaves Enhanced Sintering Mechanisms in Alumina Ceramis Sintering Experiments. 2016. Contempory Engineering Science. Vol.9. No.5. 237-247 HIKARI.Ltd; (2) 2.45 GHZ Micowave Drying of Cocoa Bean. 2016. ARPN Journal of Engineering and Applied Science. Vol.11. No.19/ ISSN 1819-6608. Asian Research Publishing Network (ARPN); dan (3) Role of Triple Phonons Excitations in Large Angle Quasi-Elastic Scattering of Very Heavy Mass Systems. International Journal of Modern Physics. Vol.25. No.8. Sementara tim yang menjadi reviewer terdiri atas, (1) Prof. Dr. John Hendri, M.S.; (2) Prof. Dr. Eko Hadi Sujiono, M.Si.; (3) Prof. Dr. Ir. Adang Suwandi Ahmad; (4) Prof. Dr. Drs. Terry Mart; (5) Ulfiandri, SH. MH.; (6) Herman Susanto, S.Sos., MM.; (7) Vida Megistra, S.H.; (8) Akbar Agam Parmato, S.H.; dan (9) M. Irhash Aliya, S.H. (syifa)