Menristekdikti: Dalam Akademis, Boleh Salah Asal Harus Jujur

Selasa, 18 Juli 2017 | 19:20 WIB


Jakarta (18/7) – Polemik dugaan plagiasi karya ilmiah yang dilakukan oleh Rektor Terpilih Universitas Halu Oleo, Muhammad Zamrun Firihu sudah memiliki titik terang. Berdasarkan hasil investigasi yang dilakukan oleh tim bentukan Direktorat Jenderal Sumber Daya Iptek dan Dikti Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti), tiga karya ilmiah yang dibuat oleh Muhammad Zamrun Firihu tidak masuk dalam kategori tindak plagiasi.

 

Merujuk pada kesimpulan Tim Investigasi tersebut, Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti), Mohamad Nasir melanjutkan proses pelantikan Rektor Universitas Halu Oleo. Nasir mengungkapkan, Tim Investigasi yang dibentuk Ditjen Sumber Daya Iptek dan Dikti sangat independen dan merupakan pakar di bidangnya.

 

“Dari informasi yang kami peroleh dari Tim Investigasi, kesimpulannya tidak ada unsur plagiasi, maka pelantikan ini kami jalankan. Plagiasi sangat kami larang. Oleh sebab itu, evaluator atau reviewer-nya harus independen dan punya reputasi di bidang yang bersangkutan,” ucap Nasir di Gedung D Kemristekdikti, Jakarta, Selasa (18/7).

 

Nasir menegaskan, dalam dunia akademik, kejujuran merupakan marwah pendidikan tinggi yang harus senantiasa dijaga. Bahkan, dia pernah mencabut gelar Guru Besar lantaran ketahuan melakukan plagiasi. Ada pula dosen yang terpaksa dicabut gelar Doktornya karena terbukti melakukan tindakan serupa.

 

“Tetapi saya melakukan itu berdasarkan fakta yang ditemukan tim independen, bukan dari saya yang menentukan. Dalam akademis itu, boleh salah tetapi harus jujur. Kesalahan bisa diperbaiki pada penelitian berikutnya,” tuturnya.

 

Terkait polemik plagiasi Rektor Universitas Halu Oleo, Nasir menyebut butuh waktu yang cukup panjang untuk dapat menyelesaikannya. Sedangkan kasus-kasus plagiarisme lainnya juga dilacak. Dia mengatakan, alasan memilih reviewer yang sebidang, yakni supaya memiliki perspektif dan substansi yang sama. Misalnya, imbuh Nasir, jika topik pertanian di-review oleh pakar fisika, tentu substansinya akan berbeda.

 

“Dalam review itu yang paling penting adalah esensi apa yang ada dalam jurnal. Penanganan polemik ini sudah diserahkan kepada Dirjen Sumber Daya Iptek dan Dikti, Profesor Ali Ghufron Mukti. Perlu diketahui, publikasi yang ditulis ternyata publikasi skala internasional yang masuk dalam salah satu jurnal terbaik di Amerika Serikat yang tidak sembarang orang bisa masuk,” imbuhnya.

 

Adapun artikel yang diduga hasil plagiasi terhadap karya peneliti orang lain maupun karya/jurnal sendiri (self plagiarism), di antaranya; (1) Microwaves Enhanced Sintering Mechanisms in Alumina Ceramis Sintering Experiments. 2016. Contempory Engineering Science. Vol.9. No.5. 237-247 HIKARI.Ltd; (2) 2.45 GHZ Micowave Drying of Cocoa Bean. 2016. ARPN Journal of Engineering and Applied Science. Vol.11. No.19/ ISSN 1819-6608. Asian Research Publishing Network (ARPN); dan (3) Role of Triple Phonons Excitations in Large Angle Quasi-Elastic Scattering of Very Heavy Mass Systems. International Journal of Modern Physics. Vol.25. No.8. Sementara tim yang menjadi reviewer terdiri atas, (1) Prof. Dr. John Hendri, M.S.; (2) Prof. Dr. Eko Hadi Sujiono, M.Si.; (3) Prof. Dr. Ir. Adang Suwandi Ahmad; (4) Prof. Dr. Drs. Terry Mart; (5) Ulfiandri, SH. MH.; (6) Herman Susanto, S.Sos., MM.; (7) Vida Megistra, S.H.; (8) Akbar Agam Parmato, S.H.; dan (9) M. Irhash Aliya, S.H. (ira)