Sengaja Berkonspirasi Melakukan Plagiasi

Senin, 17 Juli 2017 | 16:36 WIB


Supriadi Rustad

Kasus plagiat itu bertingkat-tingkat.  Pemuncaknya adalah  perkara plagiat yang melibatkan pertarungan untuk memperebutkan hak kekayaan intelektual (HAKI) antara sejumlah pihak. Biasanya, perkara plagiat jenis ini berasal dari satu kelompok yang dulunya bersatu, kemudian mengalami pecah kongsi sehingga berakhir dengan  gugat-menggugat.

Tahun 2012 saya pernah ikut menangani aduan penjiplakan Thesis Magister UGM karya seorang Dosen di Riau. Saya lupa judulnya, yang pasti tentang Syair Putri Hijau. Karya ilmiahnya itu dijumpai di perpustakaan sebuah universitas terkenal di negara tetangga untuk gelar doktor yang lebih kemilau atas nama koleganya sendiri sesama Dosen satu pulau.

Kisah di atas mewakili kasus plagiat elitis. Saya bersyukur pernah menginisiasi persandingan karya ilmiah yang kaya akan analisis kritis. Kadang pertarungannya masuk lebih dalam ke wilayah teoretis dan filosofis. Keren…

Sebagaimana saya pernah menjelaskan pada tulisan sebelumnya, pasal 1 ayat (1) Permendiknas No 17 Tahun 2010 menyatakan bahwa tindak plagiat meliputi perbuatan secara sengaja atau tidak sengaja. Ada kasus plagiat yang terjadi karena tidak sengaja melakukan hal yang sangat sederhana. Sekitar lima tahun silam seorang calon rektor dari suatu provinsi di Pulau Jawa misalnya lupa mencantumkan sumber yang dikutip di tulisannya yang dimuat di suatu media. Inilah barangkali yang menyebabkan sanksi untuk pelaku tindak plagiat berbeda-beda.

Menurut pasal 1 ayat (2), plagiator adalah orang perseorangan atau kelompok orang pelaku plagiat, masing-masing bertindak untuk diri sendiri, untuk kelompok atau untuk dan atas nama suatu badan. Baru-baru ini, di suatu kampus di Yogyakarta, seorang peserta doktor “dipecat” oleh promotornya, dan kemudian diperkuat oleh keputusan drop out universita karena menjiplak karya ilmiah milik seorang teman. Ini jelas termasuk katagori bertindak untuk kepentingan diri sendiri sebagai plagiator perseorangan.

Promotor yang bertugas secara profesional pasti mengetahui  karya ilmiah bimbingannya itu asli atau curian. Saya mengenal baik sang promotor yang lulusan Jepang memang sangat keren dan berkharisma dalam budaya akademik terutama soal  kejujuran. Beliau menyadari bahwa disertasi itu hakekatnya merupakan karya bersama, dan pembimbing berhak marah ketika sang mahasiswa melakukan penipuan.

Keseluruhan narasi tulisan ini dan tulisan sebelumnya bukan data atau fakta yang mengandung kebenaran di semesta alam. Ini hanyalah sebuah dongeng di negeri Atas Angin, negeri elok rupawan yang mengawang di atas awan. Bagi pecinta dan yang gandrung tentang kebenaran, sungguh cerita ini tidak bisa dijadikan rujukan. Bagi anak-anakku tersayang, dongeng ini mungkin lumayan diajak mengantarkan mata terpejam.

Perilaku akademisi paling bejat adalah secara sengaja melakukan tindak plagiat bersama-sama dengan orang lain. Ia merupakan sebuah konspirasi jahat, bisa jadi dilakukan bersama atau minimal sepengetahuan pembimbing. Promotornya membela mati-matian mungkin karena sering ditraktir sate kambing. Sangat kuat diduga pimpinan universitasnya juga ikut bermain.

Modus operandinya tergolong jahala, mengguntingi tulisan dan berita di sumber terbuka. Sangat mudah bagi Tim Satu Kata  atau pembaca sekalian untuk menemukan jejaknya. Ini contoh sebuah analisis beberapa disertasi dari Universitas Alengkamayapadasukerta. Analisis ini difokuskan untuk membuktikan unsur kesengajaan sebuah niat dan kejahiliyahan sebuah cara.

 

Kisah Dr. Bagiarnana

Mendadak nama Dr. Bagiarna menjadi sangat terkenal di seantero negeri Atas Angin, terutama di kalangan Tim Satu Kata. Padahal di kolong bola langit manapun  nama itu tidak pernah ada. Pembaca dapat bertanya kepada mbah Google dan akan mendapati jawaban bahwa ia berasal dari salah ketik kata “bagiamana” yang mestinya untuk kata “bagaimana”.  Persoalannya, ini adalah kata “bagiarnana”, bukan kedua kata sebelumnya. Seumur-umur baru kali ini saya menjumpai kata itu dan langsung mengucapkannya berulang-ulang tanpa jeda.

Saya sudah pernah menjelaskan bahwa doc file  sejumlah disertasi dari kelompok kelas yang sama diproduksi oleh komputer dengan akun user yang sama. Ini bukan persoalan pengetikan semata karena sejumlah paragraf yang mengandung “kesalahan lucu” ternyata dijumpai tidak hanya di satu Disertasi, tetapi di beberapa.  Ini jelas menunjukkan bahwa tindak plagiat itu dilakukan secara sengaja dan bersama-sama.

Kejujuran dan ketidakjujuran itu memiliki pola yang jelas seperti pada tes pilihan ganda. Ketika semua murid memilih jawaban sama pada pilihan yang mengandung kebenaran, kondisi itu wajar karena kejujuran dan kebenaran itu milik bersama. Lain halnya ketika seluruh murid memilih jawaban sama pada pilihan yang mengandung kesalahan (distractor), jelas maknanya ada tiga, bodoh semua, curang semua, atau paling mungkin adalah kombinasi keduanya.

Kelucuan paragraf ini pernah dijumpai pada disertasi a.n XXXX yang membahas tentang Keluarga Berencana. Ia ternyata juga dijumpai pada disertasi a.n YYYY yang membahas perbangkan kota. Sekali lagi ini hanyalah sebuah dongeng pengantar tidur, bukan data atau pun fakta.

“Menurut Rossi dan Freeman (1980), penelitian evaluasi adalah penerapan sistematis dari prosedur penelitian sosial dalam menilai konseptualisasi dan rancangan, pelaksanaan, dan kegunaan program. Dari definisi ini maka ada tiga fokus evaluasi: Pertama, evaluasi terhadap rancangan program, yaitu bagaimana rancangan program desa binaan hendak direncanakan. Alasan yang mendasarinya, kemungkinan keberhasilannya, bagiarnana biayanya, proyeksi keuntungan, dan tingkat efektivitasnya. Kedua, …”

Pembaca dapat membandingkan paragraf di atas dengan paragraf serupa pada tulisan sebelumnya (RUK 2). Kelucuannya sama ada dua, yaitu munculnya kata “desa binaan”  pada kedua disertasi, yang satu tentang “Keluarga Berencana” dan yang lain tentang perbankan, dan munculnya kalimat “Alasan….” , yang tidak lengkap serta tidak memiliki makna. Bedanya satu, yaitu pada kata “bagiarnana”, sementara pada disertasi a.n XXXX tertulis benar “bagaimana” . Adakah penjelasannya?

Tiga kelucuan itu telah mengunci bahwa biang keroknya itu adalah paragraf  berikut ini.

“…Pertama, evaluasi terhadap rancangan program. Misalnya, bagaimana rancangan program desa binaan hendak direncanakan. Alasan yang mendasarinya, kemungkinan keberhasilannya , bagiamana biayanya, proyeksi keuntungan, dan tingkat efektivitasnya…”,

yang berasal dari tulisan di blog dan dipublikasikan pada 16 Oktober 2011 dengan judul artikel “Metode Penelitian Evaluasi : Pengantar”. (https://sinaukomunikasi.wordpress.com/2011/10/16/metode-penelitian-evaluasi-pengantar/),

Debut Dr. Bagiarnana berawal dari skripsi Fakultas Teknik a.n Rahayu Handayani yaitu berasal dari kata “bagaimana”. Rahayu memang mengunci skripsinya sehingga tidak bisa di-copy dan hanya bisa dibaca. Ada satu cara untuk mengambilnya, yaitu dengan mengetik ulang dengan konsekuensi pengetikan tidak sempurna . Mungkin ini yang terjadi sehingga paragraf itu dijumpai di blog sinaukomunikasi dan bermetamorfosa menjadi “bagiamana”.  Tampaknya si pengetik tidak kidal karena cenderung mendahulukan tangan kanan, sehingga huruf i terketik lebih dulu dari pada huruf a.

Saya melakukan eksperimen kecil, penasaran mengapa kata “bagiamana” bisa berubah menjadi “bagiarnana”?. Berdasarkan data beberapa kali proses pindai, memang sangat potensial rangkaian huruf “mana” terurai menjadi “rnana”. Ini mengindikasikan pencurian paragraf itu melalui proses cetak dan pindai, atau proses unduh file berbentuk PDF yang kemudian terurai secara tidak sempurna. Biarlah hal ini menjadi teka-teki untuk pembaca, toh ini hanya sebuah dongeng belaka, hidup Dr. Bagiarnana!

 

Kisah Dr. Tugas Matakuliah

Proses mengguntingi tulisan dan berita di sumber terbuka terbukti nyata, namun ini tetap sebuah dongeng yang jauh dari fakta sebenarnya. Guntingan tulisan tersebut ada yang diedit seperlunya dan ada pula yang dikawinkan dengan guntingan dari sumber lainya, mungkin maksudnya untuk mengelabuhi pengecekan kemiripan agar tidak mengundang selera.

Kedua paragraf berikut ini hanya berbeda dua kata.  Ini sepertinya perbuatan sengaja menjiplak paragraf yang berasal dari tugas mata kuliah mahasiswa Universitas Reog Nusantara. Judul media  BidanIdaman, Jumat 27 Maret 2015, Tugas Pelayanan KB Mahasiswa D-3 Kebidanan

Kelompok 4 kelas II A, disusun oleh Diana Ixmawati  (13621302), Erwin Martina (13621315), Siti Aisyah (13621379), Dewi Astuti (13621381),Wahyu Eni.P  (13621383), Robi Rizseki M   (14621494), dengan dosen pengampu  VISI PRIMA TWIN PUTRANTI,SST,M.Kes. (http://dewiasmidwifery.blogspot.co.id/2015/03/strategi-pendekatan-dan-cara.html)

 

Paragraf 1

“Dalam usaha untuk meningkatkan kesejahteraan bangsa, Pemerintah Kota Kendari telah dan sedang lakukan pembangunan di segala bidang, termasuk usaha-usaha untuk mengatasi masalah kependudukan. Berbagai masalah kependudukan tersebut meliputi, pertumbuhan penduduk yang tinggi, penyebaran penduduk yang tidak merata, penduduk usia muda yang besar, kualitas sumber daya manusia yang masih relatif rendah . (Halaman 102 Bab IV) ”

Paragraf 2

“Dalam usaha untuk meningkatkan kesejahteraan bangsa, pemerintah telah dan sedang lakukan pembangunan di segala bidang, termasuk usaha-usaha untuk mengatasi masalah kependudukan. Berbagai masalah kependudukan tersebut meliputi, antara lain pertumbuhan penduduk yang tinggi, penyebaran penduduk yang tidak merata, penduduk usia muda yang besar, kualitas sumber daya manusia yang masih relatif rendah.”

Sedangkan paragraf berikut ini sepertinya merupakan contoh rakitan terhadap guntingan tulisan dari sumber berbeda. Kalimat pertama dijumpai di  makalah KB bu Hasniah, Kelompok 4 yang dibuat pada Kamis, 22 April 2010 (http://diar13-midyuin08.blogspot.co.id/2010/04/makalah-kb-bu-hasniahkelompok-4.html).  Sedang kalimat kedua dijumpai pada tugas matakuliah mahasiswa kebidanan di atas. Bedanya hanya yang satu menyebut KB nasional, sedang kalimat yang lebih baru menyebut  KB Bahteramas.

Paragraf 3

Selain itu untuk mendukung usaha tersebut, perlu ditingkatkan usaha-usaha pengembangan kualitas sumber daya manusia dalam kaitan dengan pembangunan jangka panjang tahap kedua atau kebangkitan KB kedua. Pada dasarnya tujuan KB Bahteramas mencakup dua hal, yaitu kuantitatif dan kualitatif, tujuan kuantitatif adalah menurunkan dan mengendalikan pertumbuhan penduduk. Sedangkan tujuan kualitatif adalah untuk menciptakan atau mewujudkan norma keluarga kecil bahagia sejahtera.

Kalimat 1

Selain itu untuk mendukung usaha tersebut, perlu ditingkatkan usaha-usaha pengembangan kualitas sumberdaya manusia dalam kaitan dengan pembangunan jangka panjang tahap kedua atau kebangkitan KB kedua.

Kalimat 2

Pada dasarnya tujuan KB nasional mencakup dua hal, yaitu kuantitatif dan kualitatif, tujuan kuantitatif adalah menurunkan dan mengendalikan pertumbuhan penduduk. Sedangkan tujuan kualitatif adalah untuk menciptakan atau mewujudkan norma keluarga kecil bahagia sejahtera

Sekian dulu dongeng dari negeri Atas Angin tentang plagiat yang disengaja, semoga ini tidak terjadi di negara kita. Tidur tidurlah anakku sayang, bermimpi indahlah engkau,  Camelia.

 

Artikel gagasan ini merupakan bagian dari artikel penulis lainnya yang dapat diakses pada blog penulis dengan alamat http://supriadirustad.blog.dinus.ac.id/. Artikel ini merupakan gagasan personal penulis terkait fenomena plagiarisme yang menjadi tema dalam artikel ini. http://sumberdaya.ristekdikti.go.id/ mengundang masyarakat ilmu pengetahuan Indonesia untuk menuangkan gagasan personalnya mengenai pembangunan ilmu pengetahuan di Indonesia.