Tanggung Jawab Sosial Pendidikan Tinggi

Selasa, 11 Juli 2017 | 14:12 WIB


Mengapa kita mesti bicara tanggung jawab sosial pendidikan tinggi? Bukankah selama ini pendidikan tinggi sudah melaksanakan tanggung jawabnya dalam pengembangan sumber daya manusia? Apa urgensi dan relevansnya dengan isu CSR (corporate social responsibility)?

Tentu saja pendidikan tinggi bukan perseroan terbatas, yang jika disingkat sama-sama PT, tetapi kedua PT tersebut memiliki beyond obligation yang sama. Selain mencari keuntungan dan menggaji para karyawannya, perseroan terbatas diwajibkan melaksanakan CSR (corporate social responsibility). Adapun pendidikan tinggi berkewajiban mencerdaskan para mahasiswanya dan memiliki USR (university social responsibility) atas para lulusan serta lingkungannya.

Isu USR (university social responsibility) sendiri memang masih perlu dipopulerkan karena memang kalah pamor dari isu CSR (corporate social responsibility). Tiga hal berikut bisa menjadi alasan mengapa USR tertinggal dari CSR, terutama untuk konteks Indonesia. Pertama, nama CSR lebih dahulu terkenal yang diawali dengan istilah bantuan sosial murni perusahaan (charity), kemudian berganti menjadi bantuan perusahaan untuk pemberdayaan masyarakat (community development) dan kemudian menjadi tanggung jawab sosial perusahaan (corporate social responsibility).

Kedua, kegiatan CSR sejak awal dikaitkan dengan penyisihan sebagian keuntungan perusahaan untuk membantu masyakarakat. Karena faktor adanya aspek dana (uang) inilah CSR menjadi perhatian publik; apalagi sasaran CSR adalah kalangan kurang mampu yang lazimnya lebih membutuhkan uang.

Ketiga, peraturan yang ada lebih hanya mengatur CSR seperti tampak dalam pasal 74 UU mengenai Perseroan Terbatas. Jelas dalam pasal ini bahwa kewajiban CSR hanya berlaku pada perusahaan dalam bentuk PT. Bahkan pasal ini telah mengalami penguatan ketika Mahkamah Konstitusi menolak gugatan beberapa orang pengusaha yang keberatan atas keberadaan pasal ini.

 

Karakter dan Norma USR

Sesungguhnya dalam hal karakteristik USR memiliki akar tradisi yang lebih lama daripada CSR. Bahkan karakteristik sosialnya tersebut lebih alamiah sebagaimana akan dibahas dalam subbab artikel di bawah ini ketika membicarakan sejarah awal kemunculan universitas.

Lantas, apa yang menjadi karakteristik USR? Dengan tanggungjawab pada kemanusiaan sebagai basis pengelolaannya, minimal ada tiga ciri normatif USR. Pertama, universitas harus senantiasa berorientasi pada inovasi-inovasi dalam segala bidang kehidupan. Dengan menjadikan inovasi sebagai budaya, niscaya universitas akan tampak memiliki kepedulian pada masyarakatnya. Banyak persoalan di tengah masyarakat yang memerlukan inovasi baik dalam bidang pangan, energi, transportasi, kesehatan, juga pendidikan.

Kedua, kehadiran universitas di sebuah wilayah hendaknya dilandasi dengan kepedulian pada lingkungan sekitarnya. Kepedulian ini, pertama-tama haruslah diarahkan pada warga yang terdekat dengan universitas, mereka yang pelataran rumahnya menempel dengan pagar kampus. Adakah di antara mereka yang tidak mampu: makan-minumnya kurang, pakaiannya kusam, tempat tinggalnya sangat sederhana, anak-anaknya putus sekolah? Berapa jumlah mereka? Sudahkah dimiliki datanya? Lantas, pantaskah sebuah universitas dengan kampus berstandar world class university hanya berfungsi sebagai menara gading? Jangan mengaku telah melaksanakan USR bilamana cuma bisa menerima sesuatu dari masyarakat dan tidak mampu memberi sesuatu pada masyarakat.

Ketiga, dalam merespon kegalauan masyarakat hendaknya universitas baik negeri maupun swasta tidak sungkan-sungkan menerima mahasiswa yang berasal dari kurang mampu. Apalagi pemerintah telah mewajibkannya melalui Peraturan Pemerintah (PP) No 66 tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan. Dalam PP ini terdapat pasal yang mewajibkan semua perguruan tinggi negeri (PTN) menerima 20 persen mahasiswa miskin dari total mahasiswa yang diterimanya. Ketentuan ini resminya ditetapkan pada 28 September 2010.

Kabar gembiranya, sudah ribuan mahasiswa dari keluarga yang tidak mampu kuliah di PTN dan PTS melalui jalur bidikmisi. Hal ini perlu dilanjutkan karena seperti disadari bersama, bahwa dengan diterimanya mahasiswa miskin merupakan langkah awal bagi mereka untuk memperbaiki taraf hidupnya. Sebab fakta menunjukkan mereka yang sempat mengenyam pendidikan tinggi cenderung lebih berpeluang melakukan mobilitas vertikal ke arah kehidupan yang lebih baik secara ekonomi maupun sosial.

Keempat, proses pembelajaran di bangku kuliah dewasaa sudah harus bergeser, dari  transfer ilmu pengetahuan dan mendidik mahasiswa menjadi pintar menjadi proses perkuliahan yang menghasilkan lulusan yang memiliki kompetensi yang diakui oleh (calon) pengguna atau user baik di instansi pemerintah maupun korporasi. Karenanya, pihak PT tidak lagi hanya menyediakan ijasah sebagai surat tanda tamat belajar tetapi sertifikat kompetensi. Kurikulum pun, sebagai implikasinya, harus diubah, sejak dari penetapan standar kompetensinya, standar isi (materi kuliah), standar proses pembelajarannya, hingga standar evaluasi. PT tidak cukup dengan mengatakan  ”kami mewisuda sekian lulusan tahun ini”melainkan baiknya ”99% lulusan kami tahun sudah terserap di pasar kerja sesuai kompetensinya masing-masing”.

 

USR: PT Kembali ke Khitoh

Secara epistemologi, kata universitas itu berasal dari bahasa Latin yang artinya adalah umum dan menyeluruh. Dewasa ini, nama lain yang dekat dengan Universitas adalah Institut, Politeknik, dan Sekolah Tinggi.

Mengingat sifatnya yang umum dan menyeluruh tersebut, di universitas itu dibahas berbagai masalah guna dicari jalan keluarnya. Beragam persoalan kemanusiaan sejak dari urusan fisiknya, psikologinya, sosialnya hingga urusan alamnya dikupas secara mendalam. Alhasil dari perhatiannya terhadap urusan fisik antara lain melahirkan ilmu kedokteran; terhadap urusan psikologisnya antara lain melahirkan ilmu jiwa; terhadap urusan sosialnya antara lain melahirkan ilmu hukum; dan terhadap lingkungan sekitarnya antara lain melahirkan ilmu kimia dan ilmu hayat.

Tampaklah di sana, pada awalnya karakter dasar dari universitas adalah inovasi-inovasi bukan memberi gelaran akademik. Tugas pertama universitas pada mulanya adalah memberi solusi-solusi atas setiap kebuntuan sosial dalam berbagai lapangan kehidupan. Setiap terjadi perkembangan sosial selalu diikuti penemuan inovasi. Jelas di sini bahwa karakteristik dasar universitas itu senafas dengan norma USR itu sendiri. Oleh karena itu bila dewasa ini ada usaha mengembangkan USR sesungguhnya sedang mengembalikan universitas ke jalan semula ketika universitas mulai dikembangkan.

Untuk membuktikan bahwa karakteristik dasar universitas adalah tanggung jawab sosial, kita telusuri sejarah awal keberadaan universitas. Diyakini, konon, cikal bakal universitas adalah sebuah akademi yang didirikan Plato pada tahun 387 SM. Dalam akademi ini para siswanya diajarkan filsafat, matematika, dan olah raga. Melalui sistem pembelajaran yang dialogis, para siswa diajak memikirkan dan memecahkan masalah sosial di sekitar mereka.

Begitu seterusnya yang berlangsung hingga berabad-abad. Ketika universitas pertama di dunia didirikan basisnya adalah pencarian inovasi dalam bentuk ilmu pengetahuan demi  perubahan sosial ke arah yang lebih maju. Maklumlah di antara universitas-universitas itu ada yang awalnya adalah masjid, seperti Universitas Al-Karaouine, Maroko dan Universitas Al-Azhar di Mesir; dan ada pula yang mulanya adalah gereja seperti Universitas Paris (Sorbonne). Pendiri dan pengembangnya juga adalah para ulama atau tokoh agama.

Sebagai pusat ibadah ritual ataupun sosial, pastilah masjid atau gereja bukan tempat memberikan gelar kesarjanaan seperti universitas sekarang; melainkan tempat membicarakan masalah keummatan khususnya dan alam raya umumnya. Di lembaga-lembaga seperti ini problematika kemanusiaan menjadi perhatian utamanya. Demikian pula ulama dan tokoh agama lainnya selaku pelaku utama pengembangan universitas, bukanlah tipe orang yang mencari popularitas atau mengharap gaji besar melainkan semata-mata untuk kemasalahatan sebanyak-banyak manusia.

Betapa universitas-universitas itu dahalunya berbasiskan pengabdiaannya pada kemanusiaan, hal ini kita dapat ketahui dari riwayat 10 universitas tertua di dunia. Sebagaimana banyak beredar di dunia maya, secara berturut-turut kesepuluh universitas itu adalah sebagai berikut. Yang pertama, Universitas Al-Karaouine, kota Fes, Maroko. Awalnya ia adalah sebuah masjid. Universitas ini didirikan oleh Fatimah binti Mohammad Al Fahri,pada 859 M (245 H). Menurut Guinness World Records, inilah universitas tertua di dunia, dan sekarang masih eksis.

Kedua, Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir. Didirikan tahun 969 M, Napoleon Bonaparte mengaguminya dengan menyebutnya sebagai tandingan Sorbonne, universitas tertua dan terbaik di Prancis. Universitas ini berpusat di masjid. Ketiga, Universitas Sankore, di Timbuktu, Mali. Berdiri tahun 989 M, universitas ini dianggap sebagai pusat peradaban di Afrika Barat. Pada abad ke-12, mahasiswanya mencapai 25 ribu, padahal penduduk Timbuktu saat itu hanya sekitar 100 ribu jiwa.

Keempat, Universitas Nidzamiyya yang didirikan oleh Khwaja Nizam al-Mulk pada abad 8 M di Persia (sekarang Iran). Universitas yang sama juga didirikan di Basrah, Irak, dan di Nishapur, Amur, Mosul, Herat, Damaskus, Basrah di Syiria. Yang paling terkenal adalah Al-Nizamiyya Baghdad yang berdiri tahun 1065.

Selanjutnya, Universitas Bologna yang dianggap perguruan tinggi pertama di dunia Barat. Berdiri sekitar tahun 1088 di Bologna, Italia, memimpin dunia Barat dalam inovasi pendidikan sampai periode antara dua perang dunia. Keenam Universitas Paris (Sorbonne) yang mulai beroperasi sekitar tahun 1096. Lembaga ini tumbuh di bagian akhir abad 12 di Katedral Notre Dame sebagai korporasi yang berpusat pada bidang seni, kedokteran, hukum dan teologi.

Ketujuh, Universitas Oxford. Universitas dikenal sebagai perguruan berbahasa Inggris tertua di dunia dan beroperasi sekitar tahun 1096. Universitas ini sempat ditutup sementara dua kali karena gejolak politik. Institusi ini berkembang dengan sangat cepat tahun 1167. Kedelapan, Universitas Montpelier yang berlokasi di Montpelier, Prancis. Universitas ini diprediksikan telah ada sejak 1150.

Kesembilan, Universitas Cambridge yang mulai beroperasi tahun 1209. Saat ini merupakan satu dari lima universitas terbaik di Eropa. Alumninya banyak mendapat hadiah nobel. Akhirnya, Universitas Salamanca di Salamanca, Spanyol, yang berdiri tahun 1218. Universitas, merupakan pilihan bagi siswa yang ingin fokus pada studi humaniora dan bahasa.

Mengacu pada sejarah universitas-universitas beserta motor penggeraknya yakni para ulama dan tokoh agama lainnya, kiranya tak diragukan lagi pentingnya kita mengamalkan USR ini. Apalagi dalam situasi sosial di Indonesia akhir-akhir ini, bahwasanya USR bisa dikatakan sangat-amat penting sekali mengingat baru sekitar 6% saja dari mahasiswa Indonesia yang berasal dari keluarga tidak mampu.

 

Peluang Praktik USR

Sudah lama universitas, pendidikan tinggi, atau sekolah tinggi di Indonesia mengenal dan mempraktikkan Tridarma Pendidikan Tinggi: pengajaran, penelitian dan pengabdian masyarakat. Pilar ketiga inilah yang sesungguhnya membuka peluang bagi USR. Sayangnya, pengabdian masyarakat yang dilakukan perguruan tinggi cenderung bersifat individual di kalangan staf pengajar. Jikapun sifatnya institusional, hal itu dilakukan secara musiman melalui Kuliah Kerja Nyata (K2N). Padahal melalui K2N ini kreativitas USR bisa dieksplorasi secara optimal.

Di dalam negeri, harus diakui, cukup sukar ditemukan praktik USR. Universitas selama ini sangat jarang berbagi inovasi dengan masyarakat. Yang justeru paling banyak dilakukan  universitas menjadi mitra perusahaan yang melaksanakan CSR entah sebagai pelaksana ataupun sebagai konsultan.

Pernah tersiar kabar, sebagaimana ditulis Koordinator CSR ITS, Arman Hakim Nasution, bahwa pelaksanaan CSR ITS merupakan penerjemahan tata nilai kebersamaan dan tanggung jawab sosial dalam Renstra ITS 2008-2017. Beberapa program yang dirancang dalam CSR ITS yang berbasis IPTEKS ini antara lain adalah pembangunan kelurahan Cyber, teknologi tepat guna dalam mengkonversi air payau menjadi air tawar, energi alternatif berbasis potensi alam (angin, matahari, biogas), komposting, program anak asuh, hingga pengobatan gratis. Program ini dikemas dengan nama Eco-Campus dan Program Hemat Energi ITS yang diluncurkan pad Kamis, 10 Juli 2008. Sejauh ini saya belum dapat kabar mengenai keberhasilan USR ITS ini.

Contoh dari luar negeri datang dari Lancaster University Management School (LUMS). USR mereka didasarkan pada komitmen sekolah ini untuk meningkatkan tanggung jawab sosialnya. Untuk itu, pertama-tama mereka membahas masuknya CSR kedalam kurikulum inti sekolah ini. Dengan kurikulum ini, banyak mahasiswa pascasarjananya yang berkesempatan untuk menghadiri konferensi CSR. Hasilnya, semakin banyak mahasiswanya yang tertarik untuk mengejar aspek CSR dalam karir mereka.

Disamping itu, pihak LUMS juga telah terlibat dengan berbagai kelompok masyarakat di wilayah Barat Laut  Inggris melalui penelitian, pengembangan dan pekerjaan proyek. Proyeknya pun bisa dikatakan tidak besar-besar amat. Coba saja lihat USR mereka ini, antara lain: menciptakan sebuah model yang dapat mengukur nilai sosial dari sebuah kantor pos pedesaan; membantu perusahaan modal ventura untuk menemukan metode investasi dalam sektor amal; mengembangkan bisnis dan rencana pemasaran untuk sebuah perahu kanal komunitas; dan menerapkan teori manajemen proyek untuk perawatan dan pendidikan siswa sangat cacat.

 

Masa Depan USR, Beyond Lecture

Saya optimis di masa depan USR di pendidikan tinggi akan semakin meningkat. Sekurang-kurangnya ada dua penyebabnya yang berhubungan satu sama lain. Pertama, dorongan agar pihak pendidikan tinggi lebih ramah secara sosial kian menggema. Peraturan yang mewajibkannya juga sudah ditetapkan; ia itulah PP No. 66 Tahun 2010 tersebut. Tuntutan masyarakat juga akan meningkat. Sementara kepatutan sosial kelak akan menjadi tolak ukur  baik-buruknya pendidikan tinggi.

Kedua, kesadaran masing-masing pendidikan tinggi untuk melaksanakan USR niscaya kian meningkat. Sebagai gudangnya orang-orang yang bukan hanya cerdas secara intelektual tetapi juga emosi dan spiritualnya niscaya mereka akan menerima dengan rela USR ini. Setali dengan kepatutan sosial, kelak mereka akan menjadikan kepedulian sosial ini sebagai tolak ukur moderen-tradisionalnya universitas.

Di masa depan, isu USR akan menjadi bagian tak terpisahkan dari kurikulum pendidikan tinggi. Pada gilirannya, adopsi USR ke dalam kurikulum akan meningkatkan kesadaran para mahasiswanya untuk memiliki kepedulian pada lingkungan sekitarnya. Kemudian dari sanalah mereka akan menemukan inovasi-inovasi sebagai taruhan eksistensi dirinya di tengah-tengah pergaulan sosialnya. Dengan USR, pengelolaan pendidikan tinggi lebih dari sekadar kuliah dengan sejumlah mata kuliah, melainkan beyond lecture melalui suatu kurikulum yang menjadikan para lulusannya memiliki kemampuan menghadapi tantangan hidupnya. (Ibnu Hamad adalah profesor bidang ilmu komunikasi FISIP-UI; tulisan ini pernah dimuat di sebuah majalah CSR, dengan penyesuaian seperlunya)