Program PMDSU Antar Achmad Solikhin Menangkan Student Award Schweighofer Prize 2017 di Austria

Rabu, 21 Juni 2017 | 14:15 WIB


Prestasi membanggakan kembali ditorehkan anak bangsa di Benua Biru. Achmad Solikhin, seorang mahasiswa program Doktor asal Indonesia berhasil memenangkan penghargaan Schweighofer Prize 2017 pada kategori Student Award. Mengusung riset kayu superhidrofobik, dia berhasil menyisihkan lima dari total enam nominator dari berbagai kampus ternama dunia.

“Pada kategori Student Award ini ada dua pemenang, yakni saya dan satu lagi mahasiswa dari Brazil. Sedangkan beberapa kategori lainnya diberikan kepada akademisi berkolaborasi dengan industri,” ujarnya, Rabu (21/6).

Uniknya, pada ajang penghargaan sektor kehutanan Eropa tersebut, Achmad membawa nama dua negara sekaligus, yakni Indonesia dan Jepang. Pasalnya, meski berkewarganegaraan Indonesia, pria asal Jepara ini terdaftar sebagai perwakilan dari kampus Jepang. Kala itu, Achmad sedang mengikuti program Peningkatan Kualitas Publikasi Internasional (PKPI) di Shizuoka University.

Achmad menceritakan, ajang dihelat di Technische Universität Wien (TU Wien) di Wina, Austria. Dia terbang dari tanah Air pada 18 Juni, sedangkan malam penghargaan digelar 20 Juni pukul 20.00 – 21.00 waktu Wina. Menurut Achmad, dua hari sebelumnya juga terdapat workshop yang dapat diikuti para peserta.

“Saya ke Austria sendirian karena Dosen yang dari Jepang sedang ke Kanada. Begitu sampai, perasaan saya campur aduk, antara senang, namun cemas karena takut tersesat. Tapi alhamdulillah, pengalaman ini sungguh luar biasa. Saya bisa bertemu dengan para periset muda bertalenta di dunia, serta pebisnis kehutanan terkenal,” ungkapnya.

Begitu namanya disebut menjadi salah satu pemenang, Achmad pun kaget dan sempat tidak percaya. Dia langsung maju ke depan dan menerima penghargaan, serta memperoleh hadiah uang senilai 5.000 euro atau senilai Rp74,4 juta. Baginya, hadiah berupa materi bukan tujuan utama. Untuk itu, dia akan menggunakan hadiah tersebut untuk mengembangkan penelitian tentang kayu dan membantu biaya studi sang adik yang saat ini masih sekolah di bangku SMA.

“Penghargaan ini ingin saya dedikasikan untuk Indonesia dan Jepang. Saya juga ingin berterima kasih kepada para pembimbing dari kedua negara, IPB, Shizuoka, Kemristekdikti, serta pihak-pihak lainnya yang turut membantu,” ucap calon doktor muda Indonesia itu.

Selama di Wina, Achmad sendiri tidak mendapat pendampingan khusus. Namun, bukan berarti dia melewatkan kesempatan emas begitu saja. Mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) itu memberanikan diri untuk berinteraksi dengan teman-teman yang juga sedang menempuh studi pascasarjana dari berbagai negara, termasuk sejumlah Profesor dan peneliti kelas dunia. Perbincangan itu pun kian menambah semangatnya untuk terus melakukan riset, khususnya di bidang material sciences nanokomposit.

“Saya belajar banyak dengan orang-orang hebat itu. Seperti sifat humble, respect, dan kerja keras. Selain itu, pertemuan tersebut juga memperluas koneksi, membuat saya open minded, dan yang terpenting spirit untuk berinovasi,” tuturnya.

Setelah meraih penghargaan berkelas internasional, Achmad sudah memiliki target-target yang ingin dicapai. Dalam waktu dekat, dia ingin menuntaskan studi fast track Master dan Doktor yang dijalani melalui program PMDSU. Kemudian, dia juga ingin melakukan penelitian dan mengembangkan riset di luar negeri.

“Masih ingin menimba ilmu, tapi tentu harus yang bermanfaat untuk Indonesia. Saya rencana sidang Doktor bulan Agustus, tetapi tergantung dosennya,” tukas mahasiswa yang telah menghasilkan 11 publikasi internasional di jurnal bereputasi itu. (ira)