Koas Sambil Ngebut S-3, Wyanda Jadi Doktor dengan IPK Sempurna

Sabtu, 10 Juni 2017 | 12:16 WIB


Menempuh studi di Institut Pertanian Bogor (IPB) sudah menjadi jalan hidup bagi Wyanda Arnafia. Tahun 2008, perempuan asal Padang, Sumatera Barat ini awalnya merantau untuk mendapat gelar sarjana dari Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) IPB. Kemudian pada 2012, dia melanjutkan Program Profesi Dokter Hewan (PPDH). Selang setahun, Wyanda memberanikan diri mengikuti program Pendidikan Magister menuju Doktor untuk Sarjana Unggul (PMDSU) batch I yang diinisiasi Direktorat Jenderal Sumber Daya Iptek dan Dikti, Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti).

Keikutsertaan Wyanda dalam PMDSU tergolong nekat. Pasalnya, saat itu dara kelahiran 12 Oktober 1990 tersebut masih menjalani program koas. Alhasil di tahun pertama PMDSU, Wyanda menjalani dua tanggung jawab besar sekaligus, yakni kuliah program Master dan koas. Hal ini dilakukan demi ambisinya meraih gelar doktor di usia muda.

“Saat itu rasanya 24 jam saja kurang, saya seperti keracunan paper. Di sisi lain harus mengikuti ujian, sedangkan kuliah untuk PMDSU juga tidak bisa bolos,” tuturnya, Kamis (8/6).

Meski sempat keteteran mengatur jadwal, Wyanda tetap semangat. Dia mengaku selalu ingat pesan Profesornya bahwa mahasiswa PMDSU itu spesial. Artinya, mereka yang dianggap sarjana unggul tersebut harus tahan uji terhadap berbagai situasi dan kondisi. Dengan disiplin dan tekun, bungsu dari dua bersaudara itu mampu menyelesaikan satu per satu tugasnya dengan hasil yang baik.

Pada tahun kedua, Wyanda mulai disibukkan dengan aktivitas di laboratorium. Wyanda mantap mengambil penelitian berjudul “Pengembangan Kit Uji Cepat Pendeteksi Salmonella Enteritidis pada Pangan Menggunakan Prinsip Koaglutinasi Tidak Langsung”. Penelitian ini dibimbing oleh Prof. Dr. drh. I Wayan Teguh Wibawan, M.S., sebagai Promotor utama, dengan dibantu oleh dua pembimbing lainnya, yaitu Prof. Dr. drh. Fachriyan Hasmi Pasaribu dan Dr. med. Vet. Drh. Denny Widaya Lukman, M.Si. Menurut Wyanda, ide penelitiannya dilatarbelakangi masalah penyakit Salmonelosis yang disebabkan mengonsumsi makanan berbahan baku daging ayam atau telur yang mentah atau setengah matang.

“Saya bisa di laboratorium dari jam 07.00 pagi sampai jam 20.00 malam. Apalagi di tahun kedua dan ketiga aktivitas di lab semakin intens, karena kita bekerja dengan bakteri jadi harus terus diawasi,” ucapnya.

Asyik berkutat dengan penelitian, Wyanda tak lupa dengan tanggung jawabnya untuk menulis publikasi. Hingga saat ini, ada empat publikasi yang sudah berhasil diterbitkan, tiga di antaranya merupakan publikasi di jurnal internasional terindeks Scopus. Sedangkan satu publikasi diterbitkan di jurnal nasional berakreditasi A. Wyanda mengatakan, ada dua publikasi yang diselesaikan ketika sedang mengikuti Program Sandwich di Jerman.

“Pengerjaan publikasi di Jerman lebih cepat. Saya merasa ada perbedaan proses bimbingan dengan Profesor yang di Jerman. Profesor hampir selalu datang ke laboratorium, lalu melakukan aktivitas bersama mahasiswa dan sharing hasil penelitian. Bagi saya, pengalaman ke Jerman ini sangat berharga,” ujarnya.

Segala kerja keras meneliti, menulis publikasi, hingga menyusun disertasi yang dilakoni Wyanda akhirnya terbayar dalam Sidang Terbuka Promosi Program Doktor yang dilaksanakan Kamis, 8 Juni 2017. Wyanda tampil penuh percaya diri mempresentasikan hasil penelitiannya berupa prototipe kit pendeteksi Salmonella Enteritidis. Bahkan, jawaban Wyanda mampu memukau para penguji dan peserta sidang. Beberapa kali tepuk tangan meriuhkan suasana sidang yang tadinya hening.

Kesuksesan Wyanda semakin lengkap karena dinyatakan lulus program Doktor dengan nilai sempurna. Sang Promotor, Prof. Wayan dengan bangga mengumumkan kepada forum bahwa Wyanda meraih IPK 4,00. Capaian Wyanda ini sangat luar biasa karena dia juga menjadi salah satu mahasiswa PMDSU yang lulus tercepat di seluruh Indonesia.

“Izinkan saya untuk memanggil Anda yang pertama kali dengan sebutan Doktor Wyanda Arnafia. Saya sangat menikmati presentasi yang disajikan. Sungguh dengan perestasi seperti itu Wyanda pantas mendapat IPK sempurna. Lagi-lagi saya dibuat bangga dengan anak bimbingan PMDSU ini. Program Kemristekdikti ini sungguh brilian karena dapat menggali segala potensi yang ada di mahasiswa juga promotornya,” imbuh Wayan.

Lebih lanjut Wayan mengungkapkan, menjadi Doktor muda juga harus diimbangi dengan mental yang kuat. Hal ini ditularkan dari pembimbing kepada mahasiswa melalui keteladanan perilaku. “Yang perlu disoroti dari mahasiswa PMDSU ini apakah skill dan knowledge  yang dimiliki telah disertai dengan mental. Ini tugas kami sebagai pembimbing untuk mengajarkan. Kami tanamkan kejujuran, empati, dan simpati dalam bentuk perilaku nyata,” terangnya.

Kekaguman pada hasil penelitian dan presentasi Wyanda juga diungkapkan langsung oleh Dekan Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) IPB, Prof. drh. Srihadi Agungpriyono, Ph.D, PAVet(K). Sebelum menutup sidang terbuka, Srihadi melamar Wyanda untuk menjadi salah satu dosen di fakultas yang dipimpinnya itu. Tawaran ini semakin membuat putri dari pasangan suami istri Abdul Munaf dan Nelfida itu mewujudkan cita-citanya untuk menjadi seorang dosen atau peneliti.

“Tentu saya sangat senang dengan tawaran Pak Dekan tadi. Saya tahu persis bahwa FKH IPB ini yang terbaik, begitu juga orang-orang di dalamnya. Saya sangat senang jika akhirnya bisa bergabung dengan tim tersebut. Apalagi impian saya memang menjadi dosen atau peneliti,” sebutnya.

Wyanda sendiri tak pernah menyangka dapat membubuhkan gelar Doktor di depan namanya pada usia muda. Dia juga memotivasi para generasi muda untuk tidak takut mencoba beasiswa PMDSU ini.

“Terima kasih kepada Kemristekdikti atas beasiswa PMDSU yang mengantarkan saya menjadi seorang Doktor. Menurut saya bagi para sarjana yang memang memiliki potensi harus mencoba peluang beasiswa PMDSU ini. Dengan pengalaman dan ilmu pengetahuan, kita bisa membuat gebrakan di usia muda. Saya rasa jika bangsa ini dipenuhi pemuda yang cerdas dan punya motivasi, maka pasti kita mampu bersaing di kancah dunia,” tukas Wyanda optimistis. (ira)