Menulis Bukan Sekadar Pengabdian

Rabu, 10 Mei 2017 | 20:23 WIB


Surabaya, Jawa Timur – Hari jadi ke-13, Ahli dan Dosen Republik Indonesia (ADRI) yang diselenggarakan pada 5-6 Mei 2017 di Ballroom Kantor Pusat Bank Jatim, Surabaya, diisi dengan International Conference and Call Paper bertema “Enhancing Multidiciplinary Research and Innovation for Indonesia’s Future”.

Menghadirkan Dr. Tom Olijhoek  – Editor and Chief Directory of Open Access Journals (DOAJ) sebagai pembicara utama, kegiatan yang diselenggarakan langsung oleh Universitas Negeri Surabaya (UNESA) ini juga dihadiri oleh berbagai komponen penting, seperti Wakil Gubernur Jawa Timur, perwakilan dari Pemerintah Daerah Jawa Timur, dan Rektor, Staf, dan Mahasiswa UNESA.

Prof. Dr. H. Supari Muslim, Drs., M.Pd., selaku ketua panitia acara mengatakan, sebagai asosiasi tertinggi dosen di Indonesia, tujuan utama ADRI adalah meningkatkan kualifikasi dosen Indonesia sesuai dengan visi ADRI, yaitu mewujudkan dosen yang profesional dan berintegritas; dan misi ADRI, yaitu mengembangkan kompetensi akademik dan profesionalisme dosen; memperjuangkan kesejahteraan dosen; memberikan penghargaan kepada dosen yang berprestasi; memberikan bantuan perlindungan hukum kepada dosen; dan menjaga harkat dan martabat dosen sebagai profesi.

Kegiatan utama ADRI sendiri bersifat proaktif dalam mendukung segala kegiatan dosen dan profesor di Indonesia, antara lain, melakukan penelitian dan pengembangan ilmu sesuai dengan bidang keahlian; membina kemampuan dosen dalam penulisan karya ilmiah; mengembangkan jurnal ilmiah untuk publikasi karya ilmiah dosen; membantu mengembangkan regulasi terkait dengan profesi anggota dan lembaga perguruan tinggi; menegakan etika akademik; mengembangkan jaringan kerja sama antar dosen baik tingkat nasional maupun internasional; membentuk Lembaga Akreditasi Mandiri (LAM).

Dirjen Sumber Daya Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Prof. dr. Ali Ghufron Mukti, M.Sc., Ph.D. dalam kesempatannya membuka acara mengatakan, bahwa menulis bagi seorang dosen seharusnya tidak hanya sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat, melainkan dijadikan tugas dan fungsi pokok dosen dan profesor di Indonesia sebagai salah satu komponen utama dalam proses pengimplementasian ilmu pengetahuan yang dimiliki.

“Menulis di koran itu bagus dan perlu, tapi bagi dosen dan profesor itu semua tidak cukup. Sebagai seorang ahli, ruang menulis yang tepat bagi dosen dan profesor adalah jurnal, bukan koran,” tegasnya.

Ali Ghufron menjelaskan alasan utama mengapa dosen dan profesor harus menulis jurnal,  karena menurutnya, di sana, para dosen dan profesor akan dipertemukan langsung dengan komunitas pembaca dengan tingkat pengalaman dan pengetahuan yang sama. Dan hal itu diperlukan mereka sebagi langkah meng-up grade diri.

“Melalui jurnal, dosen dan profesor kita akan dihadapkan pada critical review dan sistematik review. Agar kita semua jadi tahu, apakah hasil penelitian kita bermanfaat atau tidak,” tambahnya. (iqbal)