Bet El Silisna Lagarense; Srikandi Pariwisata – Profesor Politeknik Pertama Indonesia

Selasa, 25 April 2017 | 16:09 WIB


Sebagai negara kepulauan, tidak dapat dipungkiri apabila Indonesia memilki beragam tempat menarik untuk disambangi. Mulai dari darat hingga laut; dan mulai dari kehidupan urban hingga pedesaan, selalu menarik hati wisatawan lokal maupun internasional untuk datang. Kedatangan para wisatawan tersebut tentu saja memberi banyak pengaruh positif terhadap perekonomian masyarakat Indonesia. Selain itu kedatangan para wisatawan juga menjadi alternatif promosi tentang segala kekayaan tanah air maupun keunikan yang ada di Indonesia kepada dunia.

Namun, di balik itu, pertumbuhan pariwisata juga turut mengancam kelestarian alam Indonesia. Kualitas air dan tanah yang kian menurun, terganggunya ekosistem flora dan fauna, serta berubahnya sikap masyarakat Indonesia dalam memandang budaya dan lingkungan sosialnya adalah sederetan kecil pengaruh yang timbul akibat pertumbuhan pariwsata yang sangat cepat.

Hal yang disebutkan di atas, telah sejak lama menjadi fokus utama wanita berdarah Manado, Prof. Dr. Bet El Silisna Lagarense, yang dinobatkan sebagai Guru Besar Pariwisata sekaligus Guru Besar pertama untuk Politeknik di Indonesia. Usianya ketika meraih semua itu tepat setengah abad.

Melalui orasi ilmiahnya mengenai “Model Pembangunan Pariwisata Berkelanjutan dengan Pendekatan Pentahelix Berbasis Digital” pada saat inagurasi pengukuhannya menjadi Guru Besar, Prof. Bet menyampaikan tentang konsep pariwisata berkelanjutan.

Selama ini fokus penelitian bidang ilmu kepariwisataan yang telah dilakukan selalu pada perkembangan industri pariwisata, produk pariwisata, pemasaran dan promosi pariwisata serta sistem informasi pariwisata.

Padahal menurutnya, pembangunan pariwisata berkelanjutan semestinya memiliki keseimbangan antara tiga aspek, yaitu aspek lingkungan, aspek ekonomi, dan aspek sosial budaya.

Prof. Bet juga menilai program pengembangan pariwisata Indonesia belum mampu mengimplementasikan prinsip-prinsip pariwisata berkelanjutan secara maksimal. Faktornya adalah pada lemahnya koordinasi dan integritas dari semua stakeholder. Sehingga pengembangan pariwisata hanya dilakukan secara sektoral saja.

Penelitian disertasi Prof. Bet mengenai model pengembangan pariwisata berkelanjutan dengan pendekatan pentahelix adalah upaya dirinya untuk mengakselerasi pembangunan kepariwisataan Indonesia.

“Dalam sistem pentahelix, pariwisata bukan hanya tanggung jawab pemerintah saja. Tetapi juga menjadi tanggung jawab semua elemen. Tujuannya tentu untuk mengoptimalkan proses implementasi pengembangan pariwisata yang berkelanjutan,” jelasnya.

Melalui peluncuran bukunya  yang berjudul “Tourism and Waterfront Development”, Prof. Bet juga menekankan akan pentingnya pengendalian lingkungan perairan dan kelautan sebagai sektor paling penting di Manado.

“Karena saat ini pariwisata menjadi industri penting sebagai sektor paling strategis dalam meningkatkan ekonomi negara. Maka sudah seharusnya pariwisata dikelola secara profesional,” tambahnya.

Berbagai prestasi besar yang telah diraih Prof. Bet telah menarik perhatian berbagai kalangan, salah satunya jurnalis senior Reymoond ‘Kex’ Mudami. Ketertarikannya terhadap perjalanan hidup Prof. Bet kemudian mendorongnya menulis biografi berjudul “Melintasi Tantangan, Meraih Anugerah.” Buku tersebut merupakan sepenggal kisah perjalanan Prof. Bet yang oleh Mudiami dianggap penting untuk diketahui khalayak.

Prof. Bet telah membuktikan kepada dunia bahwa meraih gelar Profesor untuk Politeknik bukan merupakan sesuatu yang mustahil. Dengan berbagai prestasi yang telah diraihnya tersebut, Prof. Bet telah banyak memberi inspirasi dan motivasi kepada Dosen-dosen di Politeknik lainnya untuk berani melangkahkan kaki serta terus berinovasi. Juga berani berkarya demi memberikan manfaat tinggi terhadap masyarakat banyak.

Sumbangsih Prof. Bet pada bidang ilmu pariwisata, selain memotivasi para akademisi, juga menjadi pemantik pemerintah dalam memberi dukungan untuk meningkatkan kunjungan wisatawan internasional. Target minimal kunjungan itu sendiri sebanyak 20 juta wisatawan atau menaikan pertumbuhan  sebanyak 8% hingga pada tahun 2019 mendatang.  Dimana pada saat ini pariwisata telah menjadi salah satu sektor yang memberikan keuntungan cukup besar terhadap perekonomian pemerintah, yakni sekitar 4% dari total perekonomian. (indri)