Jalan Sunyi Seorang Peneliti

Jumat, 14 April 2017 | 12:07 WIB


Memilih Kimia sebagai jalan hidup, nyatanya telah membawa Dr. rer. nat. Rino Rakhmata Mukti meraih berbagai prestasi luar biasa, salah satunya ‘Achmad Bakrie Awards’ untuk Kategori Ilmuwan Muda pada tahun 2016.

Menamatkan studi doktor di Technische Universitat Munchen, Jerman dan program post-doctoral di Departemen Sistem Teknik Kimia, The University of Tokyo, Jepang menjadi awal mula ilmuwan kelahiran Jakarta, 25 April 1977 ini mantap mengabdikan diri terhadap dunia pendidikan dan penelitian di Indonesia.

Kendati sempat direkrut menjadi staf peneliti di berbagai universitas di beberapa negara dengan basis teknologi mumpuni, tidak lantas menggoyahkan keteguhan hati Rino untuk tetap mengabdikan diri pada ilmu pengetahuan dalam negeri.

Menurutnya, menjadi peneliti tenur dan mandiri adalah cita-citanya sejak lama. Dan tempat terbaik mewujudkan itu semua adalah di Indonesia.

Kiprahnya sebagai Dosen telah banyak memberikan inspirasi terhadap mahasiswanya dalam berkarya. Karena itu, bersama Veinardi Suendo, oleh Kemenristekdikti, Rino didapuk sebagai co-promotor mahasiswa Program Pendidikan Magister Menuju Doktor untuk Sarjana Unggul (PMDSU).

Grandprix Thomryes Marth Kadja dan Erna Febriyanti, adalah dua nama peraih program PMDSU yang mendapatkan sentuhan tangan dingin dari dua Doktor ahli Kimia Anorganik tersebut. Sebagai kandidiat Doktor, jumlah publikasi internasional yang dihasilkan mereka bahkan telah mampu mengimbangi para peneliti senior di Perguruan Tinggi Indonesia.

“Kami melatih mahasiswa untuk peka dan tekun dalam meneliti. Bimbingan itu sendiri dimulai dari penemuan ide, problem statement, eksperimen di laboratorium, hingga menulis jurnal,” papar Rino.

Kultur akademik menjadi faktor utama yang mesti dibentuk oleh para peserta PMDSU. Untuk itu di dalam setiap bimbingan dan proses penelitian, penerapan kedisiplinan menjadi urgenitas tersendiri baginya.

Rino membeberkan bahwa peserta PMDSU masih mengalami kesulitan dalam tataran mencari ide, menemukan masalah, membuat kesimpulan dari eksperimen, hingga pada tahap proses penulisan jurnal.

Hal tersebut, baginya, adalah masalah fundamental yang tidak bisa dibiarkan. Padahal sebagai kandidat Doktor dan dalam upaya merespons Permenristekdikti No. 20, hal tersebut tidak bisa tidak dikuasai. Untuk itulah di dalam aktivitas kesehariannya, ia nyaris tidak pernah lagi memikirkan angka kredit dirinya sebagai seorang Dosen. Rino kukuh memilih menjalani renjananya sebagai ilmuwan daripada mengejar jabatan sebagai seorang pengajar.

“Saya ingin mahasiswa saya yang lainnya, bisa menjadi penemu-penemu seperti Grandprix dan Erna,” ujar Rino.

Bagi Rino, tidak ada hari libur dalam meneliti. Untuk itulah hari-harinya kerap digunakan untuk penelitian, terutama pada material Zeolit. Suatu senyawa mineral alami yang ia manfaatkan dari gabah atau sekam padi.

Zat tersebut nantinya akan digunakan pada kilang petrokimia dalam proses penyulingan minyak bumi. Dan dampak yang akan dihasilkan dari penggunaan zat tersebut tidak hanya pada sektor pertanian, tetapi juga pada sektor ekonomi akibat mampu menekan biaya belanja zat tersebut yang umumnya berbanderol tinggi.

“Harga perkilogram Zeolit kalau di luar (negeri) sekitar US$ 100-200, padahal kita bisa memproduksinya sendiri dengan mudah dari bahan alam,” jelasnya.

Penemuan material baru dari Zeolit tersebut akan mempermudah industri minyak nasional dalam menghemat energi. Dengan itu kemandirian di sektor energi akan terwujud. Dan harga bahan bakar di masyarakat sudah dipastikan tidak akan melambung tinggi.

“Saat bensin dan bahan bakar semakin menipis, Zeolit bisa menjadi alternatif yang bisa digunakan untuk menemukan energi terbarukan,” tambahnya.

Atas penemuan ini, Rino juga sempat diberi penghargaan DAAD-Fraunhofer Technopreneur Award 2016. Harapannya hingga saat ini, jalan baru penelitian yang telah dibukanya itu, dapat menjadi rujukan bagi penelitian lain.

Diminta pendapatnya mengenai program PMDSU, peraih Asian Rising Star at 15th Asian Chemical Congress 2013 ini mengutarakan agar program PMDSU jangan sampai dihentikan. Karena melalui program inilah ilmuwan-ilmuwan baru Indonesia akan banyak bermunculan.

Namun, selayaknya seorang ahli yang memahami kondisi penelitian di Indonesia. Rino melihat masih ada celah yang perlu dievaluasi Kemenristekdikti terhadap proses penyelenggaraan PMDSU, terutama pada ranah pembiayaan dan dana penelitian.

“Dana penelitian harus ditambahkan. Bila tidak dalam bentuk tunai, untuk memenuhi praktikum penelitian, insentif tersebut bisa diintegrasikan dalam bentuk hibah penelitian dari Kemenristekdikti tanpa kompetisi,” saran Rino.

Processed with VSCO with m5 preset

Processed with VSCO with a6 preset

Processed with VSCO with a6 preset