Tidak Ada Alasan untuk Tidak Menulis Publikasi

Senin, 13 Maret 2017 | 12:08 WIB


YOGYAKARTA – Menulis karya ilmiah merupakan sebuah kewajiban bagi dosen, baik lektor kepala maupun profesor. Sesuai dengan Permenristekdikti No. 20 Tahun 2017, seorang ilmuwan sudah semestinya mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta menyebarluaskannya kepada masyarakat. Namun sayangnya, dari 5.366 orang guru besar yang ada di Indonesia, masih ada sekira 3.800 orang yang belum melakukan publikasi jurnal ilmiah internasional. Artinya, hanya ada sekira 1.500 orang yang telah memenuhi kewajiban mereka sebagai profesor.

Direktur Jenderal Sumber Daya Iptek dan Dikti Kemenristekdikti, Ali Ghufron Mukti menilai profesor di indonesia masih kurang produktif. Akibatnya jumlah jurnal publikasi ilmiah Indonesia belum bisa mengalahkan Malaysia dan Singapura.

“Kelemahan Indonesia itu kebiasaan menulisnya yang masih kurang. Yang paling tinggi kebiasaan menulisnya itu Malaysia dan Singapura,” tuturnya saat mengisi seminar academic writing bertajuk “Pengembangan Karya Tulis Ilmiah dan Karir Dosen” di UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta pada Sabtu (24/3).

Di sisi lain, Ghufron sangat menyayangkan lantaran masih ada beberapa profesor yang enggan untuk menulis karya ilmiah dengan berbagai alasan, seperti penggunaan bahasa Inggris serta jurnal publikasi ilmiah yang harus terindeks Scopus.

“Padahal tidak harus terindeks Scopus. Bisa juga Scimago, JJ Thomson, atau Copernicus. Kalau Kememristekdikti pun tidak menetapkan jurnal harus berbahasa Inggris. Bisa dalam bahasa Arab, Prancis, Spanyol, China serta bahasa lain yang dinyatakan resmi oleh PBB,” jelasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Rektor UIN Sunan Kalijaga, Prof. KH. Yudian Wahyudi, PhD mengatakan bahwa pada dasarnya terdapat 2 hal yang menjadi hambatan dalam menulis karya ilmiah. Pertama, bangsa Indonesia pintar menghapal sejak kecil, tetapi tidak terlatih untuk menulis. Kedua, mindset tentang sulitnya menulis dalam bahasa Inggris.

“Masalahnya kita ini tidak terlatih untuk menulis. Dari kecil dibiasakan menghapal dan menghapal. Jadi budaya menulisnya masih sangat rendah. Begitu pun kemampuan berbahasanya,” ujar Yudian.

Oleh karena itu, Ghufron meminta perubahan mindset bangsa Indonesia agar lebih mencintai budaya menulis. Ghufron pun sangat yakin seorang profesor pasti memiliki ide-ide menarik untuk dijadikan tulisan ilmiah dan menghasilkan inovasi baru yang dapat membawa kesejahteraan bangsa.

“Tugas pokok dosen itu sebagai academic leader atau pemimpin di bidangnya. Dosen kalau ingin mengklaim keilmuan harus menulis karya ilmiah. Saya percaya Indonesia itu hebat dan dapat menjadi center pengembangan ilmu pengetahuan,” tutup Ghufron dengan optimis. (smg)