40 Ilmuwan dan Profesor Diaspora Diundang ke Indonesia

Senin, 26 Desember 2016 | 21:55 WIB


Direktorat Jenderal Sumber Daya Iptek Dikti bekerjasama dengan Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional (I4) mengundang 40 profesor diaspora ke 29 perguruan tinggi di Indonesia selama sepekan. Pada tanggal 19 sampai 24 Desember 2016 para ilmuwan dan profesor diaspora menjadi guest lecture di perguruan tinggi tujuan masing-masing. Para ilmuwan dan profesor yang didatangkan merupakan warga negara Indonesia yang sudah lama berkarier di lembaga keilmuan dan perguruan tinggi ternama di luar negeri serta memiliki reputasi internasional.

“Mereka memberi kuliah umum, menjadi mentor, serta sebagai dosen tamu di perguruan tinggi yang disinggahi. Tujuannya untuk meningkatkan mutu pendidikan dan publikasi ilmiah di universitas tersebut,” ujar Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, Muhammad Nasir usai membuka kegiatan Visiting World Class Professor, Senin (19/12) di Auditorium Kemenristekdikti, Jakarta.

Tak hanya mengajar dan bertukar pengalaman dengan mahasiswa, para ilmuwan dan profesor diaspora juga mengadakan sejumlah diskusi dengan para akademisi dalam negeri. Menteri Nasir menuturkan, profesor diaspora diharapkan dapat membantu publikasi penelitian dan jurnal ilmiah karya akademisi Indonesia. “Problem utama penelitian kita adalah publikasi hasil. Kunjungan para ilmuwan dan profesor diaspora diharapkan bisa membantu publikasi hasil penelitian secara internasional,” ujarnya.

Sejumlah perguruan tinggi yang akan mendapat kunjungan dari ilmuwan dan profesor diaspora adalah Institut Seni Indonesia Surakarta, Universitas Indonesia, Universitas Padjajaran, Universitas Sebelas Maret, Universitas Jenderal Soedirman, Universitas Riau, Universitas Mataram, Universitas Pattimura, Universitas Khairun, Universitas Nusa Cendana.

Universitas Udayana, Universitas Mulawarman, Universitas Sam Ratulangi, Politeknik Elektronika Negeri Surabaya, Politeknik Negeri Bandung, Universitas Pertahanan, Universitas Lampung, Universitas Halu Oleo, Institut Teknologi Del, Politeknik Pertanian Negeri Pangkep.

Kemudian Universitas Tanjung Pura, Universitas Airlangga, Universitas Andalas, Universitas Jember, Politeknik Negeri Batam, Institut Teknologi Sepuluh November, Universitas Gadjah Mada, Institut Teknologi Bandung, dan Universitas Diponegoro.

Program kunjungan profesor diaspora ini, terbagi dalam tujuh kelompok keilmuan yakni; (1) ketahanan pangan; (2) energi baru terbarukan, (3) kesehatan dan obat-obatan; (4) pertahanan dan material maju; (5) teknologi, informasi, dan komunikasi; (6) politik, sosial, ekonomi, seni, dan budaya; dan (7) kemaritiman.  Di akhir program ini, para ilmuwan dan profesor diaspora akan menyusun laporan dan rekomendasi yang akan disampaikan kepada Kemenristekdikti sebagai bahan masukan dan perbaikan kedepan.

Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla dalam pembukaan program mengatakan secara tegas bahwa banyak upaya yang telah dilakukan untuk meningkatkan mutu riset dan pendidikan di Indonesia. Beberapa di antaranya dengan menjadikan perguruan tinggi sebagai center of excellence melalui penandatanganan MoU (memorandum of understanding) dengan negara-negara lain serta penetapan anggaran pendidikan mealui peraturan undang-undang.

“Pengalaman para ilmuwan dan profesor diaspora harus digabungkan dengan praktek di dalam negeri. Pemerintah sangat menghargai kerja sama ini. Program ini dapat menggali permasalahan di masing-masing bidang keilmuan sehingga ke depannya bermanfaat bagi kemajuan bangsa,” ujarnya. (ra)