Agung Endro Targetkan Obat Fitofarmaka Kanker Pertama di Indonesia

Selasa, 1 November 2016 | 9:50 WIB


Indonesia dikenal dengan negara kaya sumber daya alam hayati. Catatan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Indonesia mempunyai lebih dari 30 ribu jenis tumbuhan. Sebanyak 7.500 jenis di antaranya termasuk tanaman berkhasiat obat. Hutan Indonesia menjadi habitat 30 ribu dari 40 ribu jenis tumbuhan obat di dunia. Sebanyak 90 persen dari tumbuhan obat dunia terdapat di wilayah Asia.

Tercengang dengan potensi itu, guru besar Univeritas Gadjah Mada (UGM) Prof. Dr. Agung Endro Nugroho, S.Si., M.Si., Apt., membuat inovasi dalam pengembangan obat herbal berbasis kearifan lokal untuk menunjang socio enterpreuneurship dalam rangka mendukung program pemerintah kemandirian obat nasional.

Tak hanya itu, Agung juga merasa prihatin dengan impor bahan kefarmasian di Indonesia yang mencapai 97 persen. Padahal pasar obat di negeri Khatulistiwa ini begitu tinggi. “Ironis sekali kita bertamu di negeri sendiri. Oleh karena itu kita akan manfaatkan hasil penelitian di fakultas Farmasi UGM, kemudian kita kembangkan menjadi obat herbal terstandar. Yang terpenting kita bisa mengurangi ketergantungan bahan baku obat impor,” ujarnya.

Pengembangan ini dimulai tahun 2011. Agung mulai bergerak secara masif meski ide pengembangan ini sudah ada di benaknya sejak lama. Pada tahun ini, dilakukan inventarisasi berbagai hasil penelitian tanaman. Dari banyaknya yang terinventariskan, dipilih tiga jenis tanaman terbaik yang nantinya akan ditunggalkan untuk pengembangan obat herbal. Tumbuhan awar-awar lah yang terpilih.

Dua tahun berselang, Agung pun berhasil mengajak masyarakat untuk ikut bersama mengambangkan budidaya tanaman awar-awar. Ia mengaku kesulitan untuk mengajak masyarakat saat itu. Butuh pendekatan psikologis. Memang gampang-gampang susah, mengingat tak semua masyarakat disana berprofesi sebagai petani. Agung pun turut terjun langsung untuk memberikan pemahaman terkait obat herbal. Hingga prosedur petani pun menggunakan SOP agar hasil panen tak meragukan.

Di tahun yang sama, fakultas Farmasi UGM berhasil mendapatkan mitra pabrik perusahaan untuk pengolahan dan pemasaran produk. Pabrik Swayasa Prakasa milik fakultas Farmasi UGM pun berhasil didirikan. Kini kedua pabrik itu masih menjadi sub penggerak pengembangan obat herbal ini.

Usaha tak pernah membohongi hasil. Dalam dua tahun terakhir ini berbagai prestasi telah Agung dapatkan. Tahun 2015, ia menjadi dosen berprestasi UGM, runner-up Science and Technology Award ITSF 2014, best presenter in International Symposium Drug and vaccine Development in Post MDG’s Era 2014, dan dosen berprestasi nasional dalam ajang Diktendik Berprestasi Tahun 2016.

Kini tercatat ada 20 formula obat herbal hasil Farmasi UGM. Lima jenis obat diantaranya sudah siap didistribusi dengan status Obat Herbal Terstandar. Sementara obat lainnya masih berstatus jamu. Agung mengatakan meski mendapat intruksi percepatan dari presiden, tak semua obat bisa langsung didaftarkan menjadi obat fitofarmaka ke BPOM. Mengingat banyak syarat dan ketentuan yang berlaku. “Tetap akan kita usahakan hingga menjadi obat kanker fitofarmaka pertama di Indonesia,” katanya lantang.

Masalah pemasaran pun masih belum stabil. Agung menyerahkan sepenuhnya pemasaran pada dua mitra perusahaan. Saat distribusi produk masih di Jogjakarta. “Kita masih menyusun sistem pemasaran yang efektif untuk produk kita,” ujar dosen yang hobi membaca ini.

Lima tahun berlalu, namun Agung tak menganggap hal tersebut sebagai suatu kesulitan. Apa yang sedang ditekuni dan dikerjakannya bukanlah bekerja tapi sebuah pengabdian sebagai seorang dosen. “Ini bagian dari tridharma, jadi gak ada yang namanya terkorbankan. Malahan ini tantangan dan kewajiban dalam mendukung program pemerintah ke arah kemandirian obat nasional,” ujarnya.

Dosen Favorit

Nama Agung Endro Nugroho sangat dikenal baik di kalangan mahasiswa. Seperti mahasiswa Magister Ilmu Farmasi, Nofran Putra Pratama dan Septi Wulandari. Bagi Nofran, Agung itu seorang dosen yang mampu memberikan pemahaman lebih mudah dalam mengajar. Ketika mengajar ia tidak kaku dan terpaku pada slide.

“Ia lebih banyak berinteraksi langsung dengan mahasiswa. Pembawaannya elegan, santai, diselingi candaan, friendly, dan berjiwa muda namun tetap serius sehingga banyak mahasiswa mengidolakannya, termasuk saya,” ujar Nofran.

Septi mengamini Nofran. Selain itu, menurut Septi, Agung juga sosok yang rendah hati meski sederet gelar akademik memanjangkan namanya. Ia mampu berbaur dengan mahasiswa hingga menjadi pribadi yang tak kaku seperti profesor pada umumnya.

“Sifatnya yang friendly membuat mahasiswa mampu terbuka tentang hal-hal yang belum dipahami dan tak malu untuk bertanya,” kata Septi. Agung telah menjadi inspirasi bagi Septi dalam dunia pendidikan. Tak hanya gelar akademiknya, tetapi juga pada sikapnya yang rendah hati. (ra)